Yes We Can!! Kata-kata itu terus berkumandang selama pidato kemenangan Barack Hussein Obama menjadi presiden Amerika Serikat. Pidato itu seakan mengakhiri penantian panjang rakyat Amerika untuk keluar dari krisis dan kegilaan Bush yang berulangkali membuat kebijakan ngawur, terutama tentang Iraq, dan hubungan internasional Amerika. Terpilihnya Obama bakal menjadi sejarah terbesar terjadinya dobrakan besar dalam sejarah presiden Amerika yang merupakan rentetan orang kulit putih dalam 200 tahun terakhir. Obama, merupakan keturunan Afrika-Amerika, berkulit hitam, sebuah ras yang dahulu pernah mengalami penindasan dan diskriminasi di Amerika. Yang luar biasa, bagaimana pemilu di Amerika bisa menjadi pemilu di dunia. Di Jepang, berita mengenai pemilu di Amerika jauh lebih hot ketimbang di Amerika sendiri. Berbagai-bagai negara sibuk mengklaim hubungan dan relevansinya dengan Barack Obama. Kenya, oleh karena asal kelahirannya. Timur Tengah, oleh karena nama Hussein nya. Indonesia, oleh karena masa kecilnya. Jepang, oleh karena salah satu kotanya yang juga bernama Obama. Obama tiba-tiba menjadi pemimpin yang revolusioner, oleh karena satu visinya “Change!” Mungkin orang Amerika sudah lelah dengan kepemimpinan yang itu-itu saja. Kemenangan Obama ini pun disambut oleh prajurit-prajurit Amerika di Iraq. Obama menjanjikan dalam kampanyenya, penarikan seluruh pasukan AS di Iraq paling lambat 16 bulan. Jelas, sebagai pemimpin yang berasal dari kalangan minoritas, Obama pun juga akan memperjuangkan persamaan derajat. Mungkin saja nanti visitor-visitor AS dari Indonesia akan memperoleh kelunakan proses memperoleh visa. Tapi, sebagai pemimpin dari kalangan minoritas, proses Obama untuk menjadi presiden tentu bisa dibilang ide sinting, karena sudah hampir pasti orang dari kulit hitam tidak akan pernah bisa menjadi presiden. Maka itu, bisa dikatakan bahwa Obama itu sebenarnya sinting.
Aku barusan membaca artikel tentang “Sinting Itu Penting”. Di situ dikatakan bahwa kita harus sinting untuk bisa mencapai sesuatu yang besar. Namun sinting yang dikatakan di situ adalah ekstrim yang seekstrim-ekstrimnya, namun legal dan halal. dalam kalimat lain, kreatif tapi arif, kanan tapi berkenan. Sering kadang aku berpikir, luar biasa orang-orang jaman dahulu kala seperti Albert Einstein, Aristoteles, Thomas Alfa Edison, dan orang-orang hebat yang lain yang mampu untuk mendobrak pemikiran atau hal baru di jamannya. Itulah orang-orang sinting jaman dulu. Aku mengkhayal, betapa enaknya untuk bisa menjadi orang-orang sinting seperti itu, tinggal mengkhayalkan suatu ide aneh, kemudian merealisasikannya.
Tapi belakangan, aku pun mulai berpikir, tidak mungkin ada orang yang bisa berkhayal sesuatu hal yang ekstrim, tanpa dia terlebih dahulu memiliki kemampuan yang ekstrim. Singkat katanya, tidak mungkin saya sampe bisa berpikir punya ide gila untuk menciptakan lagu yang jauh lebih gila dari Beethoven, tanpa saya punya kemampuan seperti Beethoven. Sama seperti seorang pengemis tidak mungkin tiba-tiba memiliki ide gila membuat suatu desain perancangan baju yang unik dan tiada duanya, tanpa dia pernah menggeluti usaha bidang perancangan. Sekalipun dia terpikir pun, itu hanyalah angan-angan belaka, khayalan yang tidak terukur, yang 100% tidak akan pernah dikejarnya, tanpa dia mencoba mendalami dunia itu barang sedikit saja. Barack Obama saja tidak akan pernah terpikir untuk menjadi presiden, bila ia tidak pernah merasakan duduk di kursi senat dan melakukan tugasnya sehari-hari.
Jadi menurut saya, sinting itu penting, tapi menjadi sinting, itu lebih penting! Tanpa kita menjadi sinting terlebih dahulu, kita tidak akan pernah punya pikiran sinting. Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan, bahkan tidak ada jalan pintas menuju kesintingan. Kesintingan itu sendiri bukan jalan pintas, tetapi keadaan yang diusahakan dan dikejar. Kesintingan itu ilmu kreativitas tingkat tinggi, yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang layak memilikinya, yaitu yang punya tingkat kesintingan yang tinggi. Bagaimana memperolehnya? Belajar, bekerja, dan ketekunan. Tiga hal itu, yang membuat level kesintingan anda bertambah hari demi hari, sampai suatu hari anda akan mencetuskan suatu ide yang dianggap dunia benar-benar sinting. Tapi itu barulah separuh jalan. Kesintingan anda akan menjadi sempurna kalau anda berhasil menyelesaikan apa yang anda cetuskan itu. Barulah pada saat itu, kesintingan anda akan dianggap normal oleh dunia, sehingga dunia akan menjadi ikut-ikutan sinting seperti anda. Saat itu, tentu anda harus naik ke tingkat kesintingan yang lebih tinggi lagi, sehingga orang-orang sinting yang lain tidak akan dapat mengejar anda. Yes, we can!!
Gresik, 7 November 2008, pukul 14.05